Rumah tua yang terkesan angker itu berdiri kokoh di ujung
desa. Persis di depannya membentang jalan desa yang menghubungkan desa lain dan
jalan raya. Halaman rumah itu cukup luas dan dipagari dinding batu bata
setinggi lebih dari satu meter. Suasananya nampak sepi. Lampu teras sudah
dimatikan atau belum dinyalakan?. Meskipun tidak begitu terang karena terhalang
gorden yang transparan, cahaya lampu ruang tamu yang sedikit redup dapat menembus jendela kaca yang ada di kanan kiri
pintu utama. Lampu taman yang berada di sudut kanan rumah menyorot ke arah
hamparan rumput taman dan jajaran tanaman hias sejenis pinang. Di sisi kiri
rumah tampak lorong yang menuju halaman belakang, agak
gelap. Di pojok halaman belakang, persis dibawah sinar lampu, meskipun samar,
terlihat mainan sejenis ayunan yang terbuat dari kayu. Agak ke kanan pohon
kamboja bali berdiri kokoh. Tidak jauh dari rumah itu yang dibatasi beberapa
petak sawah terdapat makam umum milik
desa.
“Mampir dulu mas............” Pinta gadis itu kepada Raga sebelum
ia membuka pintu gerbang.
“Lain kali aja................ udah malam. Gak enak sama
tetangga.” Jawab Raga sambil membukakan pintu gerbang yang terbuat dari besi.
“Ya udah................. hati-hati di jalan ya..........?!
Raga mengangguk.
“Kamu juga hati-hati........... rumah sepi.” Ucap Raga sambil
menutup kembali pintu gerbang.
Gadis itu berlalu meninggalkan Raga yang berdiri di luar
pintu gerbang. Sesekali ia menoleh ke arah Raga. Raga melambaikan tangan. Harum
bunga melati kembali melintas di hidungnya. Malam terasa sunyi. Dari kejauhan
terdengar lolong serigala. Bulu kuduk Raga sekejab berdiri. Segera dihidupkannya
mesin motor ketika dilihat sang pacar sudah masuk rumah.
Dalam perjalanan pulang Raga sempat merasakan ada yang aneh
suasana malam itu. Tidak seperti beberapa waktu
yang lalu ketika pertama atau
yang kedua kalinya ia bertandanang ke rumah sang pacar. Saat itu
suasana begitu terang. Gemerlap lampu mengelilingi rumah tua itu yang hanya
dihuni sang pacar dengan seorang pembantu, karena kedua orang tua dan tiga
adiknya tinggal di Jakarta.
“Ah! Ini hanya perasaanku saja..........! Maklum ini kan malam
jum’at” Tepis Raga menghibur diri
sendiri.
Motor terus melaju. Menyusuri
jalan
desa yang berlubang dan tergenang
air. Sepanjang jalan desa itu dirasanya
seperti tak ada tanda-tanda kehidupan.
Sunyi, sepi dan mencekam. Hanya lampu-lampu jalan yang berjajar diam yang
menghantarkan laju motornya. Selama perjalanan dari rumah sang pacar di jalan
desa itu hanya tiga kali Raga berpapasan dengan pengendara motor lain. Itupun
setelah hampir sampai di jalan raya.
(bersambung)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar