Jumat, 04 Maret 2016

Cerita Misteri “MELAMAR NURJANAH” (Episode 2)

Rumah tua yang terkesan angker itu berdiri kokoh di ujung desa. Persis di depannya membentang jalan desa yang menghubungkan desa lain dan jalan raya. Halaman rumah itu cukup luas dan dipagari dinding batu bata setinggi lebih dari satu meter. Suasananya nampak sepi. Lampu teras sudah dimatikan atau belum dinyalakan?. Meskipun tidak begitu terang karena terhalang gorden yang transparan, cahaya lampu ruang tamu  yang sedikit redup dapat  menembus jendela kaca yang ada di kanan kiri pintu utama. Lampu taman yang berada di sudut kanan rumah menyorot ke arah hamparan rumput taman dan jajaran tanaman hias sejenis pinang. Di sisi kiri rumah tampak   lorong yang menuju halaman belakang, agak gelap. Di pojok halaman belakang, persis dibawah sinar lampu, meskipun samar, terlihat mainan sejenis ayunan yang terbuat dari kayu. Agak ke kanan pohon kamboja bali berdiri kokoh. Tidak jauh dari rumah itu yang dibatasi beberapa petak  sawah terdapat makam umum milik desa.

“Mampir dulu mas............” Pinta gadis itu kepada Raga sebelum ia membuka pintu gerbang.
“Lain kali aja................ udah malam. Gak enak sama tetangga.” Jawab Raga sambil membukakan pintu gerbang yang terbuat dari besi.
“Ya udah................. hati-hati di jalan ya..........?! Raga mengangguk.
“Kamu juga hati-hati........... rumah sepi.” Ucap Raga sambil menutup kembali  pintu gerbang.

Gadis itu berlalu meninggalkan Raga yang berdiri di luar pintu gerbang. Sesekali ia menoleh ke arah Raga. Raga melambaikan tangan. Harum bunga melati kembali melintas di hidungnya. Malam terasa sunyi. Dari kejauhan terdengar lolong serigala. Bulu kuduk Raga sekejab berdiri. Segera dihidupkannya mesin motor ketika dilihat sang pacar sudah masuk rumah.

Dalam perjalanan pulang Raga sempat merasakan ada yang aneh suasana malam itu. Tidak seperti beberapa waktu  yang lalu ketika  pertama atau yang  kedua kalinya  ia bertandanang ke rumah sang pacar. Saat itu suasana begitu terang. Gemerlap lampu mengelilingi rumah tua itu   yang hanya dihuni sang pacar dengan seorang pembantu, karena kedua orang tua dan tiga adiknya tinggal di Jakarta.
“Ah! Ini hanya perasaanku saja..........! Maklum ini kan malam jum’at” Tepis  Raga menghibur diri sendiri.

Motor terus melaju.  Menyusuri   jalan desa  yang berlubang dan tergenang air.  Sepanjang jalan desa itu dirasanya seperti  tak ada tanda-tanda kehidupan. Sunyi, sepi dan mencekam. Hanya lampu-lampu jalan yang berjajar diam yang menghantarkan laju motornya. Selama perjalanan dari rumah sang pacar di jalan desa itu hanya tiga kali Raga berpapasan dengan pengendara motor lain. Itupun setelah hampir sampai di jalan raya.
(bersambung)


Tidak ada komentar:

Posting Komentar